Semasa kecil, dunia terasa sedikit menakutkan
Menjelang senja, langit perlahan memerah.
Saat bermain di depan rumah, langkah FIGO kecil terhenti setiap kali sosok ibunya tak terlihat.
Tempat yang sudah biasa.
Namun, sosok yang ia harapkan ada di sisinya tak terlihat.
Dunia di luar begitu luas, dan masih sedikit menakutkan.

“Ayah saya orang yang tegas. Tapi beliau mengajari saya, ‘Pilihlah jalan hidupmu sendiri.’”
Kata-kata itu tersimpan di lubuk hati anak lelaki itu.
Memilih sendiri jalan hidupnya.
Bahkan kelak, saat ia meninggalkan tempat ia lahir dan dibesarkan,
pesan sang ayah tetap hidup di dalam dirinya.

Hari ketika ia melangkah, menuju Jepang
Di balik jendela pesawat, awan membentang luas.
Negeri tempat keluarganya berada kian menjauh.
Kehidupan yang belum ia kenal perlahan kian mendekat.
“Meski takut, aku akan mencoba.”
Berbekal kata-kata itu, FIGO terbang meninggalkan Indonesia.
Setibanya di Jepang, awalnya ia sulit berkomunikasi.
Pekerjaan, bahkan irama waktu sehari-hari, kerap membuatnya bingung.
“Orang Jepang sangat menghargai waktu. Awalnya saya kaget sekali.”
Diajari, bingung, lalu belajar lagi.
Bahasa yang belum akrab.
Pekerjaan yang belum biasa.
Ada hal-hal yang baru dimengerti setelah diingatkan.
Hari demi hari ia jalani seperti itu,
dan perlahan, ia pun menjadi bagian dari tempat ini.
Kehangatan di balik ketegasan
Suara lantang sang pemimpin, menggema di lokasi kerja.
Awalnya, ia takut.
Namun, begitu pekerjaan usai, orang itu menyapanya dengan senyum.
“Otsukare.” — terima kasih atas kerja kerasmu.
Raut wajah yang berbeda dari saat bekerja.
Senyum yang menyertai sepatah kata.
Di penghujung hari di negeri yang asing,
ada sapaan sederhana seperti itu.
“Awalnya saya takut, tapi sekarang mereka mengajari saya dengan lembut, ‘Coba begini, lebih bagus.’ Tempat kerja di Jepang memang tegas, tapi di balik ketegasan itu ada kehangatan.”
Bekerja bersama, diajari, saling bertukar kata.
Seiring waktu, sedikit demi sedikit ia mulai memahami perasaan di balik suara lantang itu.
“Mereka mengingatkan saya karena mereka berharap banyak pada saya. Di baliknya ada keinginan, ‘Kami ingin kamu bisa.’”
Kami ingin kamu bisa.
Harapan itu ia terima,
dan FIGO pun berusaha untuk bisa.
Bahkan di seberang lautan,
ada orang-orang yang berharap ia terus tumbuh.
Untuk keluarga di masa depan
“Saya ingin berkata kepada diri sendiri, ‘Kamu sudah berjuang dengan baik di Jepang.’”
Kata-kata yang telah ia pelajari.
Pekerjaan yang kini mulai akrab.
Senyum yang ia temukan di balik suara yang dulu membuatnya takut.
Saat menoleh ke jalan yang ia pilih sendiri,
di sana ada dirinya yang telah berjalan sejauh ini.
Mimpinya masih di tengah jalan.
Namun kini, ada kehidupan yang ia bayangkan di depan sana.
“Suatu hari nanti, saya ingin membangun rumah dengan usaha saya sendiri. Rumah tempat keluarga yang kelak saya miliki bisa hidup dengan aman dan tenang.”
Rumah yang belum berdiri.
Hidup bersama keluarga yang belum dimulai.
Apa yang ia pelajari hari ini
kelak akan menjadi kekuatan yang menopang kehidupan itu.
Anak kecil yang dulu langkahnya terhenti setiap kali sosok ibunya tak terlihat.
Kini, anak itu bercerita
bahwa dengan usahanya sendiri, ia ingin membangun
tempat bagi keluarganya untuk hidup dengan aman dan tenang.
Di balik rasa takut, ada masa depan.
Di sana, berdiri sebuah rumah tempat ia hidup bersama orang-orang tercinta.
Catatan Redaksi
Sambil mendengarkan kisah FIGO, dua pemandangan menyatu di hati kami: halaman depan rumah tempat ia bermain semasa kecil, dan rumah yang suatu hari akan ia bangun.
Anak yang dulu merasa aman karena ada orang-orang di sisinya,
kini berusaha membangun tempat agar orang lain bisa hidup dengan aman dan tenang.
Di antara keduanya, ada keputusan untuk menyeberangi lautan, dan hari-hari yang serba asing.
Juga ada kata-kata dan senyum dari orang-orang yang ia temui di Jepang.
Kami percaya, masa depan seseorang juga tumbuh dengan cara ini, dalam hubungan sehari-hari dengan sesama.
Kata-kata yang terucap begitu saja
terkadang membuat seseorang menyongsong hari esok dengan sedikit lebih tegar.
Kami pun ingin menjadi sosok yang bisa menyampaikan kata-kata seperti itu.
Kami menantikan hari
saat FIGO bercerita kepada kami tentang rumahnya.

